TeguhPrayogo.com – Diakui atau tidak, pilpres kali ini mungkin bisa dibilang paling seru. Menampilkan 2 tokoh nasional yang sama hebat di bidang masing-masing (sipil vs militer), pada akhirnya rakyat Indonesia mengalami polarisasi pada 2 kubu yang berbeda.

Dibilang seru karena elektabilitas Joko Widodo (Jokowi), yang pada awal mula ‘belum sempat mikir’ untuk nyapres, selalu diatas angin dengan mengungguli ‘calon’ kontestan lainnya hingga menembus angka 70%, sedikit demi sedikit menurut beberapa lembaga survei, mulai diimbangi oleh kekuatan elektabilitas capres lainnya, Prabowo Subianto.

Selain itu intrik-intrik politik yang mengikutinya pun semakin ramai, panas, bahkan cenderung membabi buta. Lihat saja apa yang dilakukan oleh para purnawirawan jenderal TNI terhadap capres no urut 1, Prabowo Subianto, menjelang ‘garis finish’.

Satu per satu bermunculan untuk menahan laju elektabilitas Prabowo Subianto yang diluar dugaan mampu melesat mendekati pesaingnya. Sebut saja Agum Gumelar, Fahru Rozi, AM Hendropriyono, hingga Wiranto saling memperkuat satu sama lain bahwa junior mereka, Prabowo Subianto, dianggap tidak pantas menduduki kursi RI 1. Mantan kepala BIN, AM Hendropriyono, pernah melontarkan ucapan bahwa Prabowo Subianto masuk dalam kategori psikopat (gila).

Manuver politik mantan Pangab (TNI) Wiranto pun tidak kalah cantik. Ia menjawab ‘tantangan’ Prabowo Subianto mengenai kasus penculikan aktivis kepada khalayak dimana pada tahun-tahun sebelumnya tidak pernah sekalipun muncul. Pasangan capres no urut 2, Jusuf Kalla pun seolah tidak mau kalah. Ia pernah melontarkan sindirian agar rakyat Indonesia tidak memilih calon pemimpin bangsa yang mempunyai dosa sosial di masa lalu. Bahkan dalam salah satu agenda kampanye, ia sempat mengatakan kepada konstituen agar tidak memilih capres ‘DOR’.

Intrik politik lainnya bisa terlihat bagaimana Jaksa Agung, Basrief Arief, dan Megawati Soekarnoputri sempat dibuat ‘spaneng’ dengan beredarnya dugaan transkrip percakapan antara mereka berdua yang menghendaki agar Jokowi tidak dipidanakan atas kasus Trans Jakarta.

Dari keyakinan saya, dugaan transkrip tersebut adalah hoax atau manuver black campaign. Tidak perlu menduga-duga bahwa dugaan transkrip tersebut disebarkan oleh pihak pendukung capres no. 1 atau bukan, karena memang belum terbukti benar siapa yang melakukan black campaign tersebut. Mahfud MD pun yang berada kubu seberang secara fair menyebut bahwa dugaan transkrip yang beredar itu palsu (hoax).

“Mbak Mega tidak pernah menyebut orang lain dengan kata sampean,” jelas Mahfud MD ketika diperlihatkan dugaan transkrip percakapan antara Basrief Arief dengan Megawati Soekarnoputri.

Salah satu politisi asal Jerman, Otto von Bismarck, pernah mengatakan bahwa politik adalah seni. Maka jangan heran jika kita mendapati politisi dengan janji-janji palsunya menyebar seantero jagad. Ya, karena politik itu cair, bung. Kawan bisa jadi lawan, dan sebaliknya, lawan pun tiba-tiba bisa jadi kawan. Dalam politik itu segala kemungkinan bisa terjadi. Ujung-ujungnya bilamana bukan soal idealisme, tentu soalan lainnya adalah kepentingan.

Contoh nyata, lihat saja bagaimana kubu Megawati Soekarnoputri dengan mudahnya melanggar perjanjian Batu Tulis dengan meng-klaim bahwa “Perjanjian Batu Tulis berlaku apabila pada tahun 2009 lalu Megawati Soekarnoputri terpilih menjadi presiden RI”. Lihat saja bagaimana Bang Haji Rhoma Irama dan Mahfud MD yang diusung PKB, salah satu partai pendukung duet Jokowi-Jusuf Kalla, malah ‘pindah ke lain hati’ akibat ‘sakit hati’. Dan yang terkini, betapa ‘mengharukan’ ketika mendengar bahwa politisi Partai Demokrat, Ruhut ‘Poltak’ Sitompul, yang biasanya merendahkan Jokowi dengan sebutan ‘Tukang Mebel tidak pantas jadi presiden’ toh pada akhirnya menelan ludah sendiri dengan berjanji untuk pasang badan menjadi ‘anjing herder’-nya Jokowi-Jusuf Kalla pada pilpres tahun ini. Ealaahh rekk…

Maka itulah, kita sebagai rakyat jelata baiknya nggak perlu terlalu hanyut dalam hiruk pikuk politik dalam negeri ini. Berpendapat boleh, punya ide boleh, punya cita-cita boleh, dukung mendukung juga boleh, tapi jangan sampai tidak memberi ruang bagi orang lain untuk mengutarakan pendapatnya masing-masing.

Elegan lah dikit, mosok gara-gara copras capres ini kita sampai capek-capek melakukan hal-hal yang kontra produktif seperti saling ejek, saling sikut, dan saling melontarkan nama-nama binatang ke forum online. Thus, mari manfaatkan pesta demokrasi ini dengan bijaksana. Pesta demokrasi bukan ajang untuk menciptakan musuh-musuh baru dalam kehidupan pribadi maupun dunia maya. Akur?

sumber gambar
pemilu.com
tempo.co
unknown