Ketika tragedi Bom Kuningan Jakarta pada tahun 2004 menggegerkan kembali dunia internasional, Australia yang merasa kebakaran jenggot akibat lagi-lagi menjadi target para terroris lokal dalam menjalankan aksinya, berjanji akan melakukan preemptive strike di Indonesia. Pemerintah menganggap hal tersebut terlalu mengada-ada dan dipaksakan, mengingat Indonesia masih memiliki lembaga intelijen dan special force yang sudah barang tentu hal semacam itu adalah ‘makanan’ mereka sehari-hari.

Tidak hanya pemerintah, rakyat Indonesia sampai geleng-geleng kepala dibuatnya. Untuk apa negara lain perlu turut campur urusan dalam negeri Indonesia?. Benar kala itu sedang musim teror dimana-mana. Benar warga negara Australia di Indonesia banyak menjadi target empuk sasaran para teroris lokal. Benar kala itu kondisi alutsista Indonesia sedang dalam titik nadir. Namun preemptive strike? Fyuhh.. masih terlalu jauh untuk direalisasi di Indonesia yang sebenarnya tidak bodoh-bodoh amat dalam menangani kasus terorisme sejak tahun 1981 dulu.

Terkadang untuk mengubah keadaan diperlukan seseorang yang bertipikal “tangan besi”. Klub sepak bola Manchester United misalnya. Manajer MU Sir Alex Ferguson berhasil menumbangkan dominasi Liverpool FC di ranah sepak bola Inggris dengan cara yang tidak biasa, dimana kerap kali ia menggunakan metode hair dryer kepada para pemainnya yang tampil buruk di lapangan. Hasilnya tidak percuma, 20 tropi Liga Inggris menjadi bukti sahih gaya kepemimpinannya itu.

Sebelum baca ulasan ini, baiknya baca dulu ulasan penulis sebelumnya DISINI.

Thread ini adalah sambungan dari thread sebelumnya

Masih seputar ‘perseteruan’ personal brand para politisi kita saat ini, kali kedua ini penulis kembali me-review secara singkat beberapa website/weblog mereka dari sisi tampilan. Mengenai aspek teknis, mungkin lain kali saja kita bahas. Here we go again!

Di era digital ini semakin banyak orang yang berhubungan dengan teknologi demi menaikkan citra atau yang lebih dikenal dengan personal brand. Ada masalah dengan pencitraan? Tidak, selama yang bersangkutan memang berintegritas, terbukti mumpuni di bidangnya, negarawan, dan dapat diterima masyarakat luas.

Para politisi dalam negeri maupun luar negeri menggunakan teknologi semisal website atau jejaring sosial sebagai ‘senjata alternatif’ publikasi mengingat biaya yang dikeluarkan melalui media ini bisa dibilang tidak besar-besar amat. Hasil yang didapat pun relatif massive, karena semua orang yang memasuki dunia online ini tanpa disadari, saling terhubung satu sama lain. Thus, opini yang diciptakan melalui media online pun disadari atau tidak, ternyata mampu memengaruhi pola pikir dan tindakan pembaca lain.

Minggu tengah malam, sambil sesekali ngecek beberapa website yang saya maintain di sana-sini, sayup-sayup terdengar suara gahar James Hetfield, vokalis Metallica yang sedang melantunkan lagu metal berjudul “… And Justice For All”.

Lagu ini sangat mengiris hati jika tidak dibilang memilukan (baca: untuk kebanyakan rakyat jelata macam penulis ini, hehe). Bagaimana tidak, Metallica sebagai salah satu band metal legendaris di album ini benar-benar menelanjangi bobroknya institusi hukum di negeri Paman Sam.

Justice is Lost, Justice is Raped, Justice is Gone.. Pulling Your String, Justice is Done…
Seeking No Truth, Winning is All, Find it So Grim, So True, So Real…

Kata ‘pacaran’ mungkin biasa kita dengar. Namun apa makna sesungguhnya pacaran itu kita punya definisi yang berbeda-beda.

Pacaran menurut sosiolog adalah suatu proses mengenal antar 2 individu agar saling mengerti kelebihan dan kekurangan satu sama lain. Tujuannya adalah untuk mencari kecocokan yang diharapkan dapat meningkat pada hubungan yang lebih serius, yakni menikah.