Ribut ribut soal pilgub Jakarta 2017, ngapain juga ikut ribut?. Semua itu hanya perang ‘brand’ dan ‘strategi’ dari masing masing mesin politik dibelakang para cagub/cawagub saja. Nggak lebih. Toh dari apa yang saya lihat di beberapa ulasan mengenai debat cagub yang dimoderatori oleh mantan presenter SCTV, Ira Koesno, (oya maaf, saya kemarin ngga lihat debat di televisi karena ada taklim) saya berkesimpulan bahwa politik memang penting, tetapi baiklah, mari kita posisikan ia di tengah tengah. Nggak usah terlalu tinggi, juga jangan terlalu rendah. Biasa biasa saja.

Meski biasa biasa saja, namun proses demokrasi tetap mengajarkan kita cara bagaimana mengukur SWOT (strength, weakness, opportunity, threat). Bagi saya pribadi, khususnya di pilgub kali ini, saya lebih suka mempelajari gerak gerik cagub nomor 3, Anies Rasyid Baswedan. Kita tahu bahwa beliau adalah cagub dari golongan cendikia. Ini bukan meremehkan AHY yang punya prestasi mentereng di dunia militer lho. Apalagi meremehkan petahana yang punya dukungan modal hampir tak terbatas dari para taipan. Tetapi hanya menyoroti bagaimana sepak terjang seorang cendikia untuk melawan 2 saingan dengan gaya dan background berbeda.

Melawan AHY, saya pikir Anies Baswedan sudah punya formulasi yang sudah ia genggam sejak beberapa waktu lalu. Tetapi melawan Ahok, ini soal lain. Perlu kecermatan, kematangan, dan kefasihan berpolitik skala ‘plus plus’ tentunya.

Ahok, sosok fenomenal yang bagi sebagian orang bertransformasi menjadi ikon anti birokrasi korup ini saya pikir layak menjadi ‘target’ yang mesti dikalahkan oleh 2 cagub lainnya. Saya pun hakul-yakin bahwa AHY juga menempatkan Ahok sebagai ‘target utama’ dibanding Anies Baswedan. Jadi so-so lah.

Bagi Ahokers (sebutan fans Ahok) juga mesti sadar bahwa potensi Ahok kalah di ajang pilgub ini sudah mulai terasa. Anda tidak bisa terus mengandalkan ‘meme’ di sosmed, dan mengandalkan apa apa yang telah dikerjakan Ahok selama ia memimpin Jakarta untuk dibandingkan dengan cagub lain yang menurut Ahokers baru sebatas ide. Karena mesti diingat, dulu pun Jokowi-Ahok maju, mereka belum punya pengalaman memimpin ibukota. Baru sebatas ide, how-to and if. Dan kebetulan pada waktu itu, Foke sang petahana sedang punya masalah dengan penduduk asli Jakarta; warga Betawi. Jadi menang pun, bukan karena semata mata ingin ada angin perubahan, tetapi memang sang petahana membuka celah kekalahan lebar lebar di depan cagub lainnya. Partai Demokrat selaku pendukung utama Foke pun tidak bisa berbuat apa apa kala itu.

Kembali menyoroti bagaimana manuver politik Anies Baswedan, saya setuju sekali dengan tulisan ini. At last, it’s just another marketing strategy. Strategi ini lumayan cerdas, meski penuh resiko. Tapi ah sudahlah, kita lihat saja nanti kemana angin politik kita berhembus.