Category: Politik (page 1 of 2)

Damai saja mudah kan

Nggak sengaja nemu sablonan kaos ini waktu lagi ngaji di majelis taklim. Ada anak remaja jokam pakai kaos keren ini.. langsung cekrekk.

Pesan damai ini bagus sekali IMHO. Karena menuju 2019 sepertinya 2 kubu orang inilah yang bakal berseteru paling tajam. Ibaratnya re-match.

Jokowi yang petahana, sudah jauh jauh didukung partai gemuk. PDIP selaku partai dibelakang Jokowi baru baru ini sudah jelas menyodorkan kembali Jokowi untuk maju mempertahankan singgasananya.

Prabowo, meski masih malu malu, dari opsi dan kenyataan yang ada, meski hanya didukung (tentative) oleh Gerindra, PAN, PKS… sepertinya mata masih tertuju kepada mantan Danjen Kopassus ini.

Dari sisi integritas, kapabilitas, kepemimpinan, dan lain lain, di kubu satunya ini Prabowo seakan masih tiada lawan. Mau ngga mau sepertinya ia tetap harus maju, mengingat Jokowi hampir juga tiada lawan tanpa kehadiran Prabowo.

Jadi, buat seru seruan sih boleh aja. Asal jangan terlalu diambil hati atau baper. Karena ucapan (tulisan) itu insyaAllaah sampai ke langit. Be careful.

New Major of Jakarta

Hari ini kita punya gubernur dan wakil gubernur baru coy… Semoga amanah sampai 5 tahun full teng!

We The People

We the people | Are we the people | Some kind of monster | This monster lives

 

It’s just another marketing strategy

Ribut ribut soal pilgub Jakarta 2017, ngapain juga ikut ribut?. Semua itu hanya perang ‘brand’ dan ‘strategi’ dari masing masing mesin politik dibelakang para cagub/cawagub saja. Nggak lebih. Toh dari apa yang saya lihat di beberapa ulasan mengenai debat cagub yang dimoderatori oleh mantan presenter SCTV, Ira Koesno, (oya maaf, saya kemarin ngga lihat debat di televisi karena ada taklim) saya berkesimpulan bahwa politik memang penting, tetapi baiklah, mari kita posisikan ia di tengah tengah. Nggak usah terlalu tinggi, juga jangan terlalu rendah. Biasa biasa saja.

Meski biasa biasa saja, namun proses demokrasi tetap mengajarkan kita cara bagaimana mengukur SWOT (strength, weakness, opportunity, threat). Bagi saya pribadi, khususnya di pilgub kali ini, saya lebih suka mempelajari gerak gerik cagub nomor 3, Anies Rasyid Baswedan. Kita tahu bahwa beliau adalah cagub dari golongan cendikia. Ini bukan meremehkan AHY yang punya prestasi mentereng di dunia militer lho. Apalagi meremehkan petahana yang punya dukungan modal hampir tak terbatas dari para taipan. Tetapi hanya menyoroti bagaimana sepak terjang seorang cendikia untuk melawan 2 saingan dengan gaya dan background berbeda.

Melawan AHY, saya pikir Anies Baswedan sudah punya formulasi yang sudah ia genggam sejak beberapa waktu lalu. Tetapi melawan Ahok, ini soal lain. Perlu kecermatan, kematangan, dan kefasihan berpolitik skala ‘plus plus’ tentunya.

Ahok, sosok fenomenal yang bagi sebagian orang bertransformasi menjadi ikon anti birokrasi korup ini saya pikir layak menjadi ‘target’ yang mesti dikalahkan oleh 2 cagub lainnya. Saya pun hakul-yakin bahwa AHY juga menempatkan Ahok sebagai ‘target utama’ dibanding Anies Baswedan. Jadi so-so lah.

Bagi Ahokers (sebutan fans Ahok) juga mesti sadar bahwa potensi Ahok kalah di ajang pilgub ini sudah mulai terasa. Anda tidak bisa terus mengandalkan ‘meme’ di sosmed, dan mengandalkan apa apa yang telah dikerjakan Ahok selama ia memimpin Jakarta untuk dibandingkan dengan cagub lain yang menurut Ahokers baru sebatas ide. Karena mesti diingat, dulu pun Jokowi-Ahok maju, mereka belum punya pengalaman memimpin ibukota. Baru sebatas ide, how-to and if. Dan kebetulan pada waktu itu, Foke sang petahana sedang punya masalah dengan penduduk asli Jakarta; warga Betawi. Jadi menang pun, bukan karena semata mata ingin ada angin perubahan, tetapi memang sang petahana membuka celah kekalahan lebar lebar di depan cagub lainnya. Partai Demokrat selaku pendukung utama Foke pun tidak bisa berbuat apa apa kala itu.

Kembali menyoroti bagaimana manuver politik Anies Baswedan, saya setuju sekali dengan tulisan ini. At last, it’s just another marketing strategy. Strategi ini lumayan cerdas, meski penuh resiko. Tapi ah sudahlah, kita lihat saja nanti kemana angin politik kita berhembus.

911: Ask Questions… Demand Answer


Loose Change 911 – An American Coup 2009…

Jakarta berduka

Untuk kesekian kalinya Jakarta dihempas terror bom. Kali ini terror bom terjadi di wilayah Sarinah Thamrin. Saya turut berduka cita sedalam dalamnya kepada seluruh korban atas aksi tidak terpuji ini.

image

Who cares win

Ketika membahas soal ISIS, seseorang bertanya, kenapa perang terus tercipta dimana mana. Kapan damainya? Jawaban saya: tidak ada kata damai selama sumber daya alam dan pabrik senjata yang dikuasai kekuatan kapitalis masih ada. Lalu, apa hubungannya? As simple as hell: MAKING MONEY, honey.

#Mikir

Politics is The Art

TeguhPrayogo.com – Diakui atau tidak, pilpres kali ini mungkin bisa dibilang paling seru. Menampilkan 2 tokoh nasional yang sama hebat di bidang masing-masing (sipil vs militer), pada akhirnya rakyat Indonesia mengalami polarisasi pada 2 kubu yang berbeda.

Dibilang seru karena elektabilitas Joko Widodo (Jokowi), yang pada awal mula ‘belum sempat mikir’ untuk nyapres, selalu diatas angin dengan mengungguli ‘calon’ kontestan lainnya hingga menembus angka 70%, sedikit demi sedikit menurut beberapa lembaga survei, mulai diimbangi oleh kekuatan elektabilitas capres lainnya, Prabowo Subianto.

Read more →

Political Blindness

bertolt