Kalo agama Islam melarang umatnya melakukan suatu peribadatan (mahdhoh) tanpa pengetahuan (aka. dalil) kiranya sangat tepat. Mengingat tanpa acuan baku, maka manusia menjadi makhluk Tuhan yang sak karepe dewe (semaunya/liar). Selain ngga ngerti apa tujuan hidup, dalam menjalani hidup pun bakal ngga ada bedanya dengan hewan. Itu dipandang dari sisi agama samawi. Sad but true.

Begitu juga kita yang seyogyanya kudu mengerti segala macam pengetahuan, dari aspek yang berhubungan dengan Tuhan, manusia, hingga makhluk lain yang ada di muka bumi.

Pengetahuan yang mau gue angkat disini ada hubungannya sama kejadian menarik yang disoroti oleh sebagian netizen merujuk pada tragedi tewasnya 13 pemudik di ‘jalur neraka’ Brexit (aka. Brebes Exit), yakni menyoal ketidaktahuan fungsi marka jalan yang mereka lalui sendiri.

Sebagaimana diskusi di sosial media yang berkembang saat ini, banyak netizen menyayangkan kesembronoan pemudik yang tidak sedikit pun menyisakan ruang di lebar jalan tol Pejagan – Brebes. Karena dengan terpakainya ruas dan lebar jalan tol secara full, ditambah macet parah (gridlock) sampai puluhan kilometer di siang hari yang maha terik, bisa dibayangkan begitu besar energi yang terkuras sia sia.

Mengutip Tempo.co salah satu pemudik mengatakan bahwa ia bagaikan dijebak (ingat, bukan terjebak) di penjara, alias ngga bisa kemana mana. No escape!

https://goo.gl/HFJFPu

Memang, semua mesti ada yang bertanggung jawab, meski yang seharusnya tanggung jawab pinter banget ngeles nya. Tapi juga kita sebagai pengemudi dan pemotor harusnya tahu bahwa ruas jalan yang kita lalui itu punya fungsi yang berbeda beda, dengan tujuan untuk meminimalisir resiko.

Bagaimana mau menyelamatkan orang yang butuh pertolongan, wong semua ruas jalan dipakai? Bagaimana bisa polisi dan ambulans wara wiri menolong korban kalo bahu jalan juga diserobot sak udele dewe?

Ngga usah jauh jauh lah kita bandingin kondisi tertibnya macet di Eropa yang katanya lebih beretika dan manusiawi dibanding yang terjadi di Brexit kemarin. Lha wong disana ngga ada kisah macet sampai 30 jam berkutat di kota yang sama, kan?. Ngawur aja kalo ada netizen bandingin kondisi macet disana sama Brexit.

Karena gue haqqul yakin kalo macet udah lebih dari 30 jam dan orang masih ‘muter’ disitu situ juga, akhirnya yang muncul itu ya hukum rimba. Ngga peduli Eropa, Amerika, atau Asia. Siapa cepat, dia dapat. Ngga peduli marka, apalagi bahu jalan, yang penting gua sampe duluan!.

Jadi yang ngomong Eropa itu lebih beretika dibanding Indonesia, ngaca dulu deh. Eropa mana maksudnya? Amerika mana maksudnya?. Ibarat ngajarin HAM, tapi lupa berapa ratus tahun mereka menjajah negara negara sekitarnya sampe kepet kepet.

image

gambar. Macet ala Eropa dengan menyisakan ruas tengah jalan untuk dilalui ambulans dan polisi.

Terus kalo ngomong etika, lalu menyalahkan agama. Etika yang mana yang dimaksud? Wong semua agama juga mengajarkan etika. Etika kepada Sang Khalik dan etika kepada sesama makhluk.

Jangan sebab kesalahan manusia yang ngga ngerti fungsi marka jalan lalu agama atau Tuhan yang disalahkan, kalo nyatanya sekarang saban ada pejabat negara salah aja follower nya bilang “kenapa yang salah jadi si anu?”.

Thus, buat para pemudik, selamat jalan, banyak berdoa, dan semoga tidak terulang tragedi Brexit pada saat kembali dari mudik. Dan ada baiknya sedikit tahu apa fungsi bahu jalan:

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Bahu_jalan